Senin, 11 Juni 2012

mencela atau memuji?? (keajaiban makna balaghah)


A.    Pengertian ta’kid almadh bima yusybihu adz-dzam
Dalam konteks komunikasi antarmanusia biasanya banyak sekali ungkapan yang bisa dimunculkan. Perbedaan bentuk ekspresi tersebut ada dan digunakan oleh bahasa apapun di dunia. Untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya, seseorang dapat mengungkapkannya dengan uslub yang bervariasi. Penggunaan suatu uslub dalam komunikasi biasanya berkaitan dengan kondisi mukhathab, pesan yang akan disampaikan, dan aspek-aspek kebahasaan lainnya baik yang bersifat linguistik maupun non-linguistik.
Ta’kid almadh bima yusybihu addzam merupakan salah satu jenis uslub badi’ yang bertujuan untuk memperindah makna. Secara leksikal, uslub ini bermakna “Menguatkan Pujian Dengan Menyerupai Celaan.” (Zaenudin dan Nurbayan, 2007). Sedangkan dalam bahasa Indonesia ragam muhassinat ma’nawiyah ini disebut Apofasis atau Preterisio adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang Negara.(Naufal, http://www.diwarta.com/1541/pengertian-majas-gaya-bahasa-dan-macam-macamnya/)
Menurut D. Hidayat dalam bukunya Balaghah untuk semua, menyebutkan bahwa ta’kid almadh bima yusybihu adz-dzam artinya menegaskan pujian dengan ungkapan yang mengesankan adanya celaan. Dari segi struktur kalimat, uslub dimaksud ditandai dengan pemakaian kata yang menunjukkan “pengecualian”, seperti hanya, kecuali, dalam bahasa arab seperti kata (إلا-غير-لكن-بيد). Misalnya: Pengusaha Itu Kekayaanya Melimpah,…Hanya Saja… Amal Ibadahnya Tidak Kalah Dengan Para Kiai Di Kota Ini. Ternyata, kalimat setelah kata ‘pengecualian’ merupakan pujian yang berfungsi sebagai ‘penegas’ pada pujian pertama. (Hidayat, 2002: 162 )
Pada awalnya, ketika seseorang akan memuji, dia memilih kata-kata atau ungkapan yang langsung menunjukkan kepada tujuan tersebut. Akan tetapi seiring dengan perkembangan budaya dan tingkat intelektual manusia, cara pengungkapan pujian tersebut bervariasi. Orang mulai berpaling dari yang jelas kepada yang samar, dari yang hakiki kepada majazi, dan dari yang mudah dipahami kepada yang sulit dipahami. Salah satu variasi tersebut adalah Ta’kid almadh bima yusybihu addzam. (Zaenudin dan Nurbayan, 2007).
B.        Macam-macam Badi’ Ta’kid almadh bima yusybihu addzam
Badi’ Ta’kid almadh bima yusybihu addzam ini terbagi kepada dua bentuk yaitu:
1.      Menafikan suatu sifat tercela setelah mendatangkan sifat terpuji.
Jenis pertama berupa menafikan suatu sifat tercela, kemudian setelah itu mendatangkan sifat pujian. Dalam kaidah ilmu balaghah, jenis pertama ini bisa didefinisikan dengan:
أن يستثنى من صفة ذم منفية، صفة مدح على تقدير دخولها فيها
Artinya:
“Mengecualikan sifat sanjungan dari sifat pencelaan yang dinafikan dengan cara memperkirakan bahwa sifat sanjungan itu termasuk kepada sifat pencelaan.”
Dalam ungkapan keseharian kita sering mendengan ucapan seseorang: “dia tidak bodoh, tapi dia seorang yang cerdas.” Ungkapan jenis ini banyak kita temukan dalam bahasa arab baik dalam syiir maupun natsar.
a.       Ibnu Rumi berkata:
ليس به عيب سوى أنّه # لا تقع العين على شبهه

Artinya:
“Tidak ada cacat padanya, selain mata tidak akan melihat orang yang serupa dengan dia.”
Pada prinsipnya syiir diatas merupakan pujian kepada orang yang dipujanya. Maksud ucapan penyair di atas adalah; “ pada orang yang dipujanya tidak ada cacat. Tidak ada seorangpun yang sebanding dengannya.”
Dari untaian kata-kata tersebut tampakknya seperti mencela, akan tetapi sebenarnya adalah memuji.
b.      Penyair lain berkata:
و لا عيب فيه غير أنّ خدوده بهنّ احمرارا من عيون المتيم
Artinya:
“Dan tiada cela pada dirinya, hanya saja pada pipi-pipinya terdapat warna kemerah-merahan, dari mata orang yang sangat dicintai.
c.       Seorang penyair berkata:
ليس به عيب سوى أنه لا تقع العين على شبهه
Artinya:
“Tiada cela pada dirinya, hanya saja sesungguhnya, tidak memendang suatu mata, pada orang yang menyerupainya.”
و لا عيب فيكم غير أنّ ضيوفكم تعاب بنسيان الاحبة و الوطن

Artinya:
“Tidak ada cacat bagi kalian, hanya sayang tamu-tamu kalian, memang dicela karena lupa, terhadap kekasih dan tanah air.”

ليس به عيب سوى أنه لا تقع العين على شبهه
Artinya:
“Tidak ada cacat padanya, hanya sayang mata tidak dapat melihat serupanya.”
و لا عيب في معروفهم غير أنه يبيّن عجز الشاكرين عن الشكر
Artinya:
“Tiada cacat pada kebaikan mereka, hanya saja sesungguhnya dia, menjelaskan kelemahan untuk bersyukur, dari orang-orang yang bersyukur.”
2.      Menetapkan sifat pujian, kemudian diikuti oleh istitsna’ dan sifat pujian lainnya. Dalam ilmu badi’, jenis kedua ini biasa didefinisikan sebagai:

أن يثبت لشيئ صفة مدح، و يؤتى بعدها بأداة إستثناء تليها صفة مدح أخرى مستثناة من مثلها
Artinya:
“Menetapkan sifat sanjungan terhadap sesuatu dan sesudahnya didatangkan perangkat pengecualian yang diikuti oleh sifat sanjungan lain yang dikecualikan dari semisalnya.
Contoh untuk bentuk kedua ini adalah sebagai berikut:
و لا عيب فيه غير أنى قصدته فأنستنى الأيام أهلا و موطنا
Artinya:
“Tiada cela pada dirinya, kecuali sesungguhnya aku menujunya, kemudian hari-hari itu melupakanku, terhadap keluarga dan tempat tinggal.”
و لا عيب فيه غير أنى قصدته فأنستنى الأيام أهلا و موطنا
فتى كملتأ وصافه غير أنه جواد فما يبقى من المال بقيا
Artinya:
“Dialah pemuda yang sempurna sifat-sifatnya, hanya saja sesungguhnya dia seorang dermawan paripurna, maka tidak menyisakan sisa harta.”

Ta’kid almadh bima yusybihu addzam merupakan salah satu bentuk dari muhassinat ma’nawiyah yang bertujuan untuk memuji (pujian). Model pujian dengan cara ini merupakan salah satu dari beberapa bentuk pengungkapan yang memiliki nilai balaghah yang sangat tinggi. (Zaenudin dan Nurbayan, 2007).
C.  Contoh-contoh lain
1.                 أَنَا أفْصَحُ الْعَرَبِ {بَيْدَ} أنّى مِنْ قُرَيْشٍِ
“Aku orang Arab yang paling fasih, hanya saja aku ini orang quraisy.”
2.                                                      لاَ حَسُنَ فيِ المَنْزِلِ الاّ اَنّهُ مُظْلِمٌ ضَيْقُ الحُجُرَاتِ.
“Tiada keindahan di rumahnya, hanya saja gelap dan sempit kamarnya”.
3.                  هُوَ بَذِئُ اللِّسَانِ غَيرَ اَنَّ صَدْرَهُ مَجْمَعُ الاَضْغَانِ.
“Ia adalah orang yang kotor lidahnya, hanya saja dadanya merupakan tempat berkumpulnya kedengkian”.
- 4.لاَعِزّةَلَهُمْ بََيْنَ العَشَائِرِ غَيْرَ أنَّّ جَارَهُمْ ذَلِيْلٌ.
“Tidak ada kemuliaan bagi mereka dalam pergaulan, hanya saja tetangga mereka orang-orang hina”.
- 5. لاَ فَضْلَ لِلْقَوْمِ اِلاَّ أنَّهُمْ لاَ يَعْرِفُوْنَ لِلْجَارِ حَقَّهُ.
“Tiada keutamaan bagi suatu kaum, namun mereka tidak mengetahui hak-hak tetangga”.
- 6.تُعَدُّ ذُنُوْبِي عِنْدَ قَوْمٍ كَثِيرَةً * وَلاَذَنْبَ لِي اِلاّ العُلاَ والفَضَائلُ
“Oleh suatu kaum dosaku dikatakan banyak, padahal tiada dosa bagiku kecuali dosa-dosa yang tinggi dan utama”.
- 7الكَلاَمُ كَثِيْرُ التَّعْقِيْدِ سِوَي أنَّهُ مُبْتَذَلُ المَعَنِي.
“Kalimat itu berbelit-belit , di samping maknanya hambar”.
- 8الجَاهِلُ عَدُوُّ نَفْسِهِ لكِنَّهُ صَدِيْقُ السُّفَهَاءِ.
“Orang bodoh itu adalah musuh dirinya tetapi teman orang-orang bodoh”.
- 9لاَ خَيْرَ فِي هؤُلآءِ القَوْمِ إلاَّ أنَّهُمْ يُعِيْبُوْنَ زَمَانَهُمْ و العَيْبُ فِيهِمْ.
“Tiada kebaikan pada kaum itu , hanya saja mereka mencela zaman dan mereka juga cela”.
Adapun hasil analisa yang kami dapat adalah sebagai berikut:
Pada contoh (2), kita menemukan pembicara mencela sebuah rumah dengan ungkapannya لاَحُسْنَ فِي المَنْزِلِ (tiada keindahan di rumah itu), setelah itu di gunakan huruf istisna’ yang mengisyaratkan akan datang pujian setelah istisna’. Namun yang terjadi sebaliknya, pembicara justru memberikan sifat celaan untuk yang kedua kalinya, yaitu dengan ungkapan   مُذْلِمٌ ضَيْقُ الحُجُرَاتِ (gelap dan kamarnya sempit).pemberian celaan yang kedua itu sebenarnya dimaksudkan sebagai penguat terhadap celaan yang pertama.
Pada contoh ke (3), pembicara memberi sifat yang jelek kepada seseorang, ungkapan yang di gunakan adalah  بَذِئُ اللِّسَانِ (ia orang yang kotor ungkapannya), setelah itu didatangkan huruf istisna’yang memberi kesan akan datang sifat yang terpuji setelahnya, namun kenyataannya lain, pembicara mendatangkan sifat yang jelek lagi kepada orang itu, ungkapan yang di gunakan adalah صَدْرَهُ مَجْمَعُ الاَضْغَانِ (dadanya penuh dengan kedengkian). Sifat jelek yang kedua ini tentu akan memperkuat sifat jelek yang pertama.
Selanjutnya pada contoh yang ke (4) ,Al-mutakallim memberi sifat cela kepada suatu kaum dengan cara meniadakan sifat” Mulia”bagi mereka, ungkapan yang di gunakan adalah لاَعِزَّةَ لَهُمْ   (tidak ada kemuliaan bagi mereka) , setelah di gunakan huruf istisna’ yang mengisyaratkan akan datang pujian bagi mereka, namun yang terjadi sebaliknya pembicara mendatangkan celaan yang lain dengan yang meniadakan sifat baik bagi tetangganya, ungkapan yang digunakan adalah
أنَّ جَارُهُمْ ذَلِيْلٌ  (tetangga mereka orang-orang yang hina). Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa peniadaan sifat baik pada kalimat kedua, memperkuat peniadaan sifat baik pada kalimat pertama.
Demikian juga pada contoh yang ke (5), Al-mutakallim mencela suatu kaum dengan cara meniadakan sifat “ Keutamaan” bagi mereka, ungkapan yang digunakan adalah لاَ فَضْلَ لِلْقَوْمِ  ( tiada keutamaan bagi kaum tersebut) , setelah itu digunakan huruf istisna’ yang mengisyaratkan akan datang pujian bagi mereka, namun yang terjadi sebaliknya, pembicara mendatangkan celaan yang lain, yaitu bahwa kaum itu juga tidak mengetahui hak-hak tetangganya. Ungkapan yang digunakan adalah أنَّهُمْ لاَيَعْرِفُوْنَ لِلْجَارِيَةِ  (mereka tidak mengetahui hak-hak tetangganya). Dan begitu pula seterusnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa adanya sifat celaan yang kedua tersebut merupakan penegas adanya sifat celaan yang pertama. (Pusina, http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/15/takid-al-dzammi-bima-yusybihul-madhi-/#more-490)

Referensi:

A M R, Naufal, (2011). Pengertian Majas (Gaya Bahasa) dan Macam-macamnya. Online: http://www.diwarta.com/1541/pengertian-majas-gaya-bahasa-dan-macam-macamnya/

Hidayat, D. (2002). Balaghah Untuk Semua. Jakarta: PT Karya Toha Semarang

Mamat Zaenudin dan Yayan Nurbayan, (2007). Pengantar Ilmu Balaghah. PT Refika Aditama: Bandung

Pusina, Hamida. (Tt.). Ta’kid al-dzammi bima Yusybihul Madhi ( تَأكِيدُ الذّم بِماَ يُشْبِهُ المَدحِ ). Online: http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/15/takid-al-dzammi-bima-yusybihul-madhi/#more-490