Budaya memperindah bahasa bukanlah budaya baru yang lahir di zaman
modern.Budaya ini lahir dan berkembang seiring dengan lahirnya bahasa itu sendiri.Karena
selain berfungsi sebagai alat komunikasi – yang merupakan fungsi primer –
bahasa juga merupakan sarana untuk mencapai keindahan tertentu dalam menjalani
kehidupan.Meski bagaimanapun kondisinya,komunikasi tak bisa dilakukan hanya
dengan menggunakan bahasa lurus terus-menerus sebab secara fitrah,seni dalam
diri setiap manusia ada sejak ia dilahirkan,meski prosentasinya
berbeda-beda.Olehkarena itu kadang bahasa perlu dijadikan hal yang menarik dan
penuh dengan keindahan sehingga dapat memberi sumbangsih keindahan dan gairah
tertentu dalam diri manusia. Begitu pun dengan bahasa arab terutama bahasa arab sebelum masa kedatangan
islam di jazirah arab, yang dicerminkan kekayaan melalui sastra-sastranya yang
terkenal indah.
A.
Keadaan Bangsa Arab Jahiliyyah Aspek Sosial, Etika
Dan Agama
Adapun keadaan
bangsa arab jahiliyyah aspek sosial, etika dan agama, diantaranya(Online.
Mardiansyah, 2010):
Orang Arab Jahiliyah terbagi menjadi dua bagian :
a.
Masyarakat Desa,
Mereka
merupakan penduduk terbanyak yang mendiami Jazirah Arab. Namun kehidupan mereka
nomaden, selama mereka mengikuti arah air dan tepi sungai. Untuk
kebanyakan, hubungan antar kabilah diikat dengan hubungan permusuhan,
Peperangan menjadi makanan mereka sehari-hari, maka berkembanglah sifat saling
balas dendam, paceklik datang lahirlah sifat dermawan, peperangan datang sifat
keberanianlah yang berkembang dan kuatlah sifat fanitime kesukuan. Keadaan
inilah banyak Puisi-puisi Arab bertemakan tentang kepahlawanan.
b.
Masyarakat Kota,
Mereka merupakan penduduk kota yang
sudah menetap; mata pencahariannya pedagangan, pertanian dan kerajinan.
Diantara mereka ada yang mendiami kota-kota Hijaz yaitu Mekkah, Yatsrib
(Madinah) dan Thaif. Orang-orang Quraisy menghabiskan waktunya untuk
perdagangan dikarenakan letak georafis yang jauh jarak antara Syam dan Yaman,
sebagaimana menghabiskan waktunya beribadah untuk menghormati Ka’bah. Pada
Musim Haji merupakan kesempatan bagi mereka untuk mendirikan toko-toko di pasar
( Ukkadh, dzu al-majannah, dan dzu al-Majaaz). Di Pasar-pasar ini, mereka
berbagi pikiran, puisi-puisi dan pidato-pidato, yang mempengaruhi perkembangan
Bahasa dan dialek Arab antar kabilah-kabilah Quraisy. Kondisi ini berlangsung
sampai turunnya al-Quran ketika lahirnya Islam.
Orang Arab memiliki etika-etika mulia yang diterima
oleh Agama Islam, namun terdapat juga kebiasaan-kebiasaan buruk yang ditolak.
Diantara beberapa etika yang mulia : jujur, menepati janji, tolong menolong,
keberanian dan dermawan…. Adapun Kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang paling
keji adalah perang, fanatic kesukuan, dan mengubur anak perempuan. Terdapat
juga kebiasaan buruk yang lain yaitu minum minuman keras dan berjudi.
Mayoritas Orang arab menganut paham animisme (الوثني) yang beribadah pada berhala, sebagian
beribadah pada matahari dan bulan. Sedikit yang beragama Kristen dan Yahudi,
serta sisanya beribadah kepada Allah dengan akal. Keadaan ini berlangsung
selama Akhir Masa Jahiliyah sampai kita menemukan pemikiran Tuhan Yang Esa,
khusus bagi sebagian golongan menamakannya monoteis (الحنفاء) . Golongan ini meragukan paham
animisme yang berkembang, dan membuatlah agama baru yang menuntun kehidupannya.
Golongan Monoteis ini bukan hanya di Mekkah saja, namun mereka tersebar di
kabilah-kabilah, diantanya : Qis bin Saa’idah al-Abaadi, Abu Dzar al-Ghifari,
dan Umiyah bin Abu al-Shalt. Dan besar kemungkinan terdapat orang-orang Arab
Jahiliyah yang tidak menyukai minuman keras dan berjudi seperti Abdul
al-Muthallib bin Haasyim, Qais bin ‘Aashim al-Tamimi, dan Hundulah al-Raahib.
Pemikiran mereka dilandasi dari keraguan pada kehidupan
beragama, ini melekat dan menguatkan bahwa atheis jahiliyah dapat menimbulkan
kerusakan.
B.
Sastra Arab Pada Masa Jahiliyyah
(Dlaif, 1976:
38)Masa
Jahiliyah (العصر
الجاهلي)
sekitar satu setengah abad sebelum datangnya agama Islam di Jazirah Arab, Para
Peneliti Sastra menamainya sebagai al-huqbah al-zamaniyyah (الحقبة الزمنية), yaitu masa kesempurnaannya Bahasa Arab;
berupa Puisi Jahili. Oleh karena itu, kita akan membatasi Masa Jahiliyah ini
sekitar 150 tahun sebelum datangnya Agama Islam, dan sebelum masa ini kita
namai dengan Masa Jahiliyah Pertama (الجاهلية الأولى); masa yang mewariskan kita Puisi dan
Bahasa Jahiliyah.
Kata
"Jahiliyah" yang dimaksud Penulis sekarang bukanlah kata yang berasal
dari "al-jahlu" (الجهل); kebalikan dari "mengetahui" (العلم). Tetapi merupakan turunan kata dari "al-jahlu" (الجهل); yang berarti marah, nomaden dan kering. Nama ini dinamai oleh orang-orang
Islam untuk menunjukkan keadaan bangsa Arab sebelum datangnya Islam dengan
penus keruksakan, kejahatan dan peperangan. Sebagaimana kita ketahui, bahwa
letak geografis Jazirah Arab yang tandus akan mempengaruhi cara berpikir orang
gurun pasir, dan cara berpikir orang gurun ini merupakan Akhlak kebanyakan
orang Arab maka melekatlah sifat keberanian, kedermawanan, menepati janji,
tolong menolong, cinta kebebasan, dan benci pemaksaan; sifat-sifat inilah yang
melandasi cara berpikir para Penyair Arab Jahili membuat tema-tema puisi
mereka.
Puisi
Jahiliyah mempengaruhi kehidupan bangsa Arab : Adalah para sastrawan Jahiliyah
tokoh-tokoh pembesar qobilah-nya, keberaniannya ia mencurahkannya dengan puisi
untuk musuh-musuhnya., membakar dalam peperangan, dan mendinginkan dalam
kedamaian. Inilah hubungan yang kuat antara puisi jahiliyah dan qobilah(Online.
Supriyani, 2009).
a. Tujuan – tujuan Puisi Jahiliyah
a. Tujuan – tujuan Puisi Jahiliyah
Orang-orang Arab menuliskan syi’ir untuk segala hal yang mereka rasakan
lewat inderanya, terlintas di dalam hatinya, dan sesuatu yang terdapat di
sekitar mereka. Mereka menuangkan itu semua dalam sebuah syi’ir. Sebagaimana
yang disebutkan oleh Ahmad al Iskandari dan Musthofa ‘Anani dalam al Wasith
(tt:46), tema-tema besar yang sering mereka kemukakan adalah sebagai berikut:
1. al-Hamasah (الحمسة)
Syair ini berisikan sifat-sifat yang berkaitan dengan keberanian, kekuatan,
dan ketangkasan seseorang di medan perang, dan mencemooh orang-orang yang
penakutx.
2. an Nasib (النسيب)
Nasib disebut juga dngan At Tasybib. Tema ini mereka gunakan untuk
mengungkapkan kekaguman mereka kepada wanita, menyebutkan
keindahan-keindahannya, menerangkan keadaanya, menyesali kepergiannya, berisi
kerinduan-kerinduan mereka. Dalam syair nasib mereka tidak pernah memusuhi
wanita, syair nasib ini memiliki kedudukan yang pertama di antara meraka karena
dalam syair nasib ini terdapat suatu kesenangan jiwa dan pikiran dimana di
dalamnya terdapat cinta dan itulah suatu rahasia seluruh pertemuan manusia. Penduduk badui adalah orang-orang yang paling
banyak bercinta karena mereka memiliki banyak waktu luang dan bertemu dengan
kabilah-kabilah yang bermacam-macam pada musim panas dan semi. Dan jika mereka
berpisah mereka saling mengingat kenangan itu, seperti mengingatnya sang
kekasih dengan yang dikasihinya. Kemudian mereka kembali ke tempat pertemuan
itu, kemudian mengingat kembali kenangan-kenangan pertemuan itu, mengingat
kembali tentang mereka dan apa-apa yang mereka lihat dari
peninggalan-peninggalan sang kekasih lalu mereka tuangkan dalam sebuah syair.
3. al Fakhr (الفخر )
Yaitu
tema syair yang membangga-banggakan kelebihan yang dimiliki oleh seorang
penyair atau sukunya. Seperti sifat keberanian, kemuliaan nenek moyang,
ketinggian keturunan, dan kemsyhuran sukunya..
4. Al-Madh ( المدح )
Adalah
tema syair yang berisi pujian kepada seseorang, terutama mengenai sifatnya yang
baik, akhlaknya yang mulia, tabiatnya yang terpuji, atau sikapnya yang suka
menolong orang dalam kesulitan. Juga menyebutkan keindahan-keindahan badani,
seperti: ketampanan, kecantikan, dan lain-lain. Penyair-penyair yang terkenal
dengan tema ini diantaranya; Zuhair, Nabighah dan al-A’syaxi.
5. Ar-Ritsa ( الرثاء )
Yaitu
tema syair yang mengungkapkan rasa putus asa, kesedihan, dan kepedihan. Dalam
Rista kadang-kadang penyair mengungkapkan sifat-sifat terpuji dari orang-orang
yang meninggal, atau mengajak kita untuk berfikir tentang kehidupan dan
kematian. Tema ini sangat memberikan pengaruh karena penyair menyajikan tema
yang benar-benar nyata terjadi di hadapan mereka.
6. Al Hija ( الهجاء )
Ialah
membicarakan tentang kejelekan–kejelekan tentang seseorang atau kabilahnya dan
mengingkari tentang kemulian-kemuliaannya serta kebaikan-kebaikannya. Al Hija’
digunakan untuk menjatuhkan seseorang, yang di dalamnya berisi kebencian dan
ketidaksukaan terhadap orang yang dibenci dengan menyebutkan
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya.
7. Al- I’tidar ( الإعتذار )
Yaitu
berisi penolakan penyair terhadap tuduhan yang ditimpakan kepadanya dan meminta
belas kasihan dengan mengemukakan alasan-alasan akan ketidakbersalahannya dan
meminta pengertian dari orang yang dituju. Penyair meminta maaf atas segala
kekeliruannya dengan menyatakan penyesalan yang mendalam.
8. Al-Wasf ( الوصف )
Yaitu
tema syair yang mendiskripsikan keadaan di sekitarnya. Misalnya jika ia seorang
musafir, maka ia akan menggambarkan tentang perjalanannya bersama untanya, dia
menggambarkan padang pasir yang luas, panas matahari yang menyengat dan
dinginnya malam. Jika ia seorang yang sedang berperang, maka ia menggambarkan
keganasan peperangan dan situasinya. Jika ia seorang pemburu, maka ia
menceritakan tentang perburuannya, kuda berburunya dan alat untuk berburu, dan
sebagainya.
9. Al-Ghazal ( الغزل )
Yaitu
tema syair yang membicarakan wanita yang dicintai, baik mengeanai wajahnya,
matanya, tubuhnya, lehernya, dan sebagainya. Penyair juga mengungkapkan tentang
kerinduan, kepedihan, dan kesengsaran yang dialaminya.
b. Pasar-Pasar Arab
Sastra
dilahirkan dan tak jarang juga melahirkan lingkungan. Habitat sastra
berpengaruh besar terhadap perkembangan sastra, karenanya ‘komunitas’ sastra
bagi dunia sastra adalah keniscayaan.
Komunitas
sastra dalam pengertian adanya satu acara rutin untuk kegiatan sastra, seperti
pementasan pembacaan puisi telah ada sejak jaman Jahiliyah. Kegiatan-kegiatan
seperti itu mereka lakukan di pasar-pasar di daerah Arab, dimana pada saat itu
pasar sebagai pusat kegiatan masyarakat. Sastrawan Jahiliyah mengekspresikan
hasil karyanya dipasar-pasar rakyat. Pasar ini sangat berpengaruh terhadap
perkembangan sastra Jahili, karena adat orang Arab saat itu, jika mereka
melakukan perdagangan mereka bepergian dari satu jazirah ke jazirah lain, terus
menerus seperti itu sepanjang tahun. Adapun pasar-pasar yang terkenal saat itu
adalah pasar Hajar dan Musyqar yang terdapat di Bahrain, pasar Syahar di
Hadramaut, pasar Shan’a di Yaman. Pasar ‘Ukadz, Majnah, Dzul Majaz, dan
Habasyah di Hijaz (sekarang Makkah). Adapula pasar-pasar yang terletak antar
daerah Arab dan daerah ‘Ajam, diantaranya pasar
Ablah, Hirah, dan Anbar.
Pada
saat itu pasar tidak hanya menjadi tempat perdagangan. Pasar menjadi tempat
untuk membangga-banggakan suku mereka, keturunan mereka, dan derajat mereka
juga sebagi tempat memutuskan hokum jika ada pertentangan di masyarakat. Selain
itu, pasar juga menjadi tempat berkumpulnya para penyair, sastrawan, ruwatxv, kritikus sastra, ahli khitobah. Para
penyair membacakan syair-syair mereka yang indah dan memiliki nilai sastra yang
tinggi, kemudian para kritikus akan menanggapi syair tersebut, baik dari segi
kandungan, isi sastra, keindahan susunan dan bahasanya. Begitupun para
penghafal Ruwat akan mengahfal syair-syair terbaik saat itu.
c.Ayyamul
‘Arabi
Ayamul
‘Arabi adalah sebutan untuk peristiwa-peristiwa bersejarah pada jaman
Jahiliyah. Pada masa Jahiliyah, jazirah Arab dipenuhi dengan peperangan. Perang
menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Perang tidak
hanya mereka lakukan untuk merebut sebuah daerah, perebutan air, melindungi
saudara mereka, tapi juga mereka jadikan sebagai ukuran kehebatan sebuah kaum.
Hampir semua masalah yang ada di antara mereka diselesaikan dengan peperangan,
karenanya bagi mereka perang menjadi suatu hal yang sangat penting dan berarti.
Peperangan
demi peperangan yang terjadi pada masa itu, tertanam dan membekas di kedalaman
lubuk mereka, sehingga banyak syair yang muncul akibat adanya
peristiwa-peristiwa (Ayamul ‘Arabi) ini. Peristiwa-peristiwa ini
dianataranya adalah peperangan antara orang arab dengan orang Faras disebut
dengan Yaum Dzi Qar, peperangan antara orang Yaman dan orang Nazaret dinamakan
Yaum Khuzaji, Yaum Halimah yaitu peperangan antara orang Manadziroh dan
Ghasasanah, Yaum Zurin yaitu peperangan antara orang Rabi’ah dan orang Nazaret,
peperangan antara orang ‘Abas dan Dzibyan dinamakan Perang Dahis dan Ghabra,
dan peperangan Yabus antara orang Bakr dan orang Taghlab .
Peperangan-peperangan ini telah menjadi inspirasi bagi syair-syair mereka,
seandainya tidak ada peperangan ini barangkali syair Jahili yang sampai kepada
kita hanya sedikit jumlahnya.
d.Thabaqat Al Udaba (Kedudukan Penyair)
Para
penyair Jahiliyah pada masanya ditempatkan pada kedudukan yang mulia.
Kata-katanya benar-benar diperhitungkan, kata-katanya menjadi hukum,
kekuasaannya mengalahkan kekuasaan lainnya. Karena para penyair ini menjadi
senjata bagai kaumnya, dia berbicara tentang kemuliaan-kemuliaan kaumnya dan
merupakan senjata mereka yang digunakan untuk mempertahankan kemuliaan mereka,
dengan penyair-penyair inilah mereka mengagungkan diri mereka, berbangga-bangga
dan bermegah-megahan. Tidak ada satu hal pun yang membuat mereka lebih bahagia
dari adanya seorang penyair yang handal yang ada di tengah-tengah mereka.
Karenanya jika sebuah kabilah memiliki seorang penyair yang hebat, datanglah
kabilah-kabilah lain untuk mengucapkan selamat, pada saat itu di buatlah pesta,
makanan-makanan dihidangkan, didatangkan wanita-wanita untuk bermain dan
mendendangkan lagu-lagu sebagaimana yang mereka lakukan ketika ada acara
pengantin. Anak-anak dan orang tua bercampur saling meluapkan kegembiraan.
Kebiasaan orang Arab Jahili mengucapkan selamat hanya ketika ada seorang anak
laki-laki, seorang penyair yang terkenal dan kuda yang beranak.
Sebagian
bangsa Arab memuliakanpara penyairnya dengan menjaga dan menyinpan
syair-syairnya dalam kehidupan mereka. Mereka sangat memuliakan penyair karena
penyair dianggap memberikan manfaat yang banyak bagi mereka. Jika mereka tidak
memilikinya, maka mereka serasa ditimpa kehinaan yang akan menurunkan derajat
mereka yang berupa aib bagi mereka. Tetapi jika mereka memilikinya mereka
berbangga-bangga dengan apa yang mereka milikixviii.
d.Periwayatan
sastra Jahiliyah
Sastra
pada jaman Jahili tidak hanya dilestarikan oleh kalangan penyair saja, tetapi
masyarakat Jahili memiliki kepedulian yang tinggi dalam melestarikannya. Meski
mereka dikenal sebagai masyarakat yang Ummi, masyarakat yang buta huruf.
Tetapi, mereka adalah masyarakat yang kuat hafalannya. Hafalan merupakan
tradisi yang telah mengakar pada masyrakat Jahili. Ada faktor-faktor yang
menyebabkan mereka melakukan hal itu, diantaranya adalah karena mereka
terdorong untuk menghafal al Ayyamxix dan al anshab (genealogi) yang
menjadi kebanggaan mereka. Dua hal ini banyak tersimpan dalam bentuk karya
sastra, baik syair maupun prosa. Maka, pada masa Jahili sastra disebarkan
melalui tradisi oral. Yaitu, seorang penyair meriwayatkan syairnya kepada
generasi penyair berikutnya. Akhirnya proses seperti ini terus berlanjut dari
generasi ke generasi berikutnya kemudian terbentuklah satu kebiasaan yang
akhirnya disebut dengan istilah Riwayah yang nantinya akan terkait dengan sanad
(transmisi), matan (materi/isi syair) dan al ‘ardh wa al ada’ (penyampaian).
Akhmad
Muzakki mengutip pendapat syauqi Dhaif mengatakan bahwa ada beberapa syarat
yang harus dipenuhi dalam penyampaian sebuah karya sastra. Pertama, al
tamaststul yaitu memberikan contoh pengungkapan karya sastra dengan susunan
yang baik. Kedua, al diqqah yaitu sifat ketelitian dalam penyampaian
karya sastra. Ketiga, al ada al sadid yaitu penyampaian yang benar
dengan memberikan penjelasan bebrapa kata asing dan penggunaan gaya bahasa
dalam karya sastra.
Adapun
sanad dalam karya sastra harus di sampaikan oleh orang yang tsiqahxx dan orang-orang yang semasa. Hal ini
dilakukan supaya sebagai informan dan orang yang menerima bisa bertemu langsung
dan harus disampaikan secara rasional/oral (musyafahah) yang diikuti
dengan ungkapan hadatsana atau akhbarana. Bahakan kepekaan pendengaran dan
ketajaman pandangan menjadi persyaratan bagi seorang perawi.
Jika
pada satu karya sastra terjadi periwayatan yang berbeda , maka solusinya adalah
dengan menggunakan metode tarjih, yaitu memilih di antara dua riwayat mana yang
lebih bisa dipertanggngjawabkan, baik dari segi riwayahnya, matan ataupun
sanadnya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh para muhadisun terhadap
hadis. Ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya perbedaan riwayat dalam
sebuah karya sastra, dinataranya; 1) para peawi berpeang teguh pada tradisi
hafalan, 2) untuk mempekuat argumentasi, 3) terjadinya kesalahan dalam ucapan,
4) bertambahnya jumlah perawi.
Periwayatan
karya sastra tidak semata-mata karena mereka ingin melafalkan karya sastra,
tetepi ada dua tujuan urgen dalam periwayatan karya sastra. Pertama,
karya sastra menjadi sumber atau rujukan periwayatan ilmu pengetahuan. Maka,
adanya periwayatan karya sastra berfungsi untuk; 1) menghindari pembengkakan
riwayat, untuk menghindari munculnya informasi-informasi pubrikatif (palsu),
2) mengetahui penjelasan dan maksud dari bidang-bidang di atas. Kedua, karya
sastra dapat dijadikan bukti dan contoh.
Beberapa
diwan (antologi) yang memuat karya para sastrawan masa Jahiliyah dan masa Islam
banyak dinisbatkan para perawi basrah dan Kufah. Karena mereka sangat
memprhatikan kiteria-kriteria ketsiqahan seorang rawi. Misalnya al Ashma’i
menulis enam diwan, yaitu; diwan Umru’ al Qais, diwan an Nabighah, diwan
Zuhair, diwan Tharafah, diwan ‘Antarah, dan diwan ‘Alqamah bin ‘Abidah.
Di
samping antologi yang telah disebutkan di atas, ada beberapa antologi yang
diriwayatkan oleh beberapa satrawan ternama dan mereka bukukan dalam
sebuah antologi. Diantaranya;
1. Abu ‘Amr al Syaibani (w. 213). Ia
mengunpulkan syair-syair sebanyak seratus delapan puluh kabilah. Dan ia menulis
lima diwan, yaitu; diwan Umru al Qais, al Huthaitah, Labid, Duraid bin al
Shimmah, dan al A’sha
2. al Ashma’i (w.215). Ia menulis beberapa
diwan, diantaranya diwan Umru’ al Qais, al Huthailah, Labid, al Nabighah, al
A’sha, Bisyr bin Abi Hazim, al Muhalhil, al Musyayyab, dan al Mutalamis
3. Ibn al Sikkit (w. 245). Ia menulis beberapa
dari dua puluh diwan, di antaranya diwan Umru’ al-Qais, al Huyhailah, Labid,
al-Asha, Bisyr bin Abi Hazim, al Muhalhil, al Mutalamis, al Musyayyab, ‘Adi bin
Ziad, al Kahansa’, Qais bin al Khatim, Tamim bin Muqbil dan lain-lain.
4. Abu al Farj al Ashfahani (w. 245), ia menulis
sepuluh kitab, yaitu; kitab fi Akhbar al Qaba
C.
Tokoh-Tokoh Sastra Pada Masa Jahiliyyah
(Online. Mardiansyah, 2010) Al-Muraqqisy al-Akbar artinya, orang yang meperindah. Sesuai
dengan gelarnya ia merupakan penyair terbesar pada masa zaman Jahiliyah karena
keindahan uslububnya. Nama aslinya adalah Amr bin Sa’ad.
Pada masa jahiliyah terkenal dengan kesukuannya. Mereka
mempunyai prinsip :
انصر أخاك ظالما أو مظلوما
“Bantulah
saudaramu; baik dalam posisi salah ataupun benar”.
شجاعة وكرم
إن تبتدر غاية يوما
لمكرمة # تلق السوابق منا والمصلينا
إنا لنرخص يوم الروع
أنفسنا # ولو نسام بها في الأمن أغلينا
شعث مفارقنا، تغلي
مراجلنا # نأسو بأموالنا آثار أيدينا
1. Jika suatu saat manusia
berlomba-lomba dalam kedermawanan, kitalah yang pertama dan kedua melakukannya.
2. Tatkala Perang diri kita murah, Jadi
mahal tatkala damai.
3. Kita itu terlihat berani dihadapan
musuh, dan dermawan; kuali kami terus dipanaskan untuk mempersiapkan para tamu,
tapi kami bersifat keras pada orang yang meminta diyat.
Penyair kedua
yang terkenal pada masa jahiliyah adalah Amr bin Kultsum (عمرو بن كلثوم). Kita mulai saja,
penyair yang bernama lengkap Amr bin Kultsum bin Malik bin 'Uttaab (عمرو بن كلثوم بن مالك بن عتاب) ini mempunyai gelar Abu al-Aswaad (أبو الأسود). Yah sesuai dengan
gelarnya ia termasuk kulit hitam. Penyair yang lahir di bagian Utara Jazirah
Arab ini, masuk kejajaran Penyair Mua'allaqat (baca : Mua'llaqat). Ia
pernah berkelana ke Syam, Irak, dan Najd.
ٍSebenarnya Para Sejarah sastra tidak bisa memastikan kapan ia
lahir. Namun, Caussin de Perceval berpendapat
Ia lahir sekitar 525 M.
Adapun Bapaknya
termasuk salah satu pemimpin kaumnya, menikah dengan Laila binti al-Muhalhal (ليلى بنت المهلهل). Ayahnya ini termasuk
Penyair gagah terkenal pada perang Taghalib dan Bakar. Maka Abu Al-Aswad ini
hidup dikeluarga pemimpin kabilah terkuat pada masa jahiliyah. Maka ada istilah
:
لو أبطأ الإسلام قليلا، لأكلت بنو تغلب الناس
Kalaulah Islam
lahir mundur sedikit, Akan terkalahkan oleh Bani Taghallub.
Dikisahkan Amr
bin Hindun ingin mencoba keberanian Amr bin Kultsum. Pada suatu pertemuan, Amr
bin Hindun bertanya : "Diantara orang Arab Ibu siapa yang akan menolak
untuk melayani Ibuku?". Diantara yang hadir menjawab : "Laila; dari
Suku Taghlibiyah; Ibu Amr bin Kultsum yang berani menolaknya". Maka Raja
mengundang Amr bin Kultsum bersama Ibunya..Singkat cerita Amr bin Kultsum dan
Ibunya memenuhi undangan tersebut. Ketika mereka datang, Ibu Raja Hiroh
memerintah Laila untuk menyediakan hidangannya. Lalu Laila menolak dengan
bahasa yang halus :
لتقم صاحبة الحاجة إلى حاجتها akan
tetapi ia bernada memaksa sambil menghina : يا ويلي يا لذل تغلب terdengarlah oleh anaknya Amr bin Kultsum di ruangan
sebelah duduk bersama Amr bin Hindun. Maka ia mengeluarkan pedang lalu membunuh
Ibn Hindun. Kemudian ia membuat puisi yang terkenal
"ألا هبي بصحنك فأصبحينا"
Pada halaman ini saya akan menulis beberapa baik dari
puisi yang terkenal dari peristiwa tersebut.
أبا هند فلا تعجل علينا # وأنظرنا نجبرك اليقينا
بأنا نورد الرايات بيضا # ونصدرهن حمرا قد روينا
بأي مشيئة عمرو بن هند # تطيع بنا الوشاة وتزدرينا
تهددنا وتوعدنا رويدا # متى كنا لأمك مقتوينا
فإنّ قناتنا يا عمرو أعيت # على الأعداء قبلك أن تلينا
وقد علم القبائل من معد # إذا قبب بأبطحها بنينا
بأنا المنعمون إذا قدرنا # وأنا المهلكون إذا ابتلينا
وأنا المانعون لما أردنا # وأنا النازلون بحيث شينا
ونشرب إن وردنا الماء صفوا # ويشرب غيرنا كدرا وطينا
لنا الدنيا ومن أضحى عليها # ونبطش حين نبطش قادرينا
بأنا نورد الرايات بيضا # ونصدرهن حمرا قد روينا
بأي مشيئة عمرو بن هند # تطيع بنا الوشاة وتزدرينا
تهددنا وتوعدنا رويدا # متى كنا لأمك مقتوينا
فإنّ قناتنا يا عمرو أعيت # على الأعداء قبلك أن تلينا
وقد علم القبائل من معد # إذا قبب بأبطحها بنينا
بأنا المنعمون إذا قدرنا # وأنا المهلكون إذا ابتلينا
وأنا المانعون لما أردنا # وأنا النازلون بحيث شينا
ونشرب إن وردنا الماء صفوا # ويشرب غيرنا كدرا وطينا
لنا الدنيا ومن أضحى عليها # ونبطش حين نبطش قادرينا
Baik saya akan coba terjemah bebas saja.
1. Wahai Amr bin Hindun, Janganlah kau tergesa-gesa menyakiti kami.
Perhatikanlah, Kami akan memberitahukan kepada siapa kami sebenarnya/
2. Kami adalah kaum perang, pergi untuk berperang. Bendera kami
putih, pulang berubah jadi merah. Ternodai dengan darah musuh.
3. Apa maksudmu Amr bin Hindun, menyakiti kami dengan kata-kata
kotor dan menghina kami.
4. Kau menakut-nakuti dan mengancam kami, dengan menjadikan kami
pelayan untuk Ibumu.
5. Sesungguhnya kekuatan kami, wahai Amr!. Mengalahkan musuh-musuh
sebelum kamu dengan mudah.
6. Seluruh Suku tahu dari ma'ad[1]jika
membangun Qubbah[2]
dengan Ahtha'[3] .
Maksudnya seluruh kabilah atau susku di arab tahu akan Kekuatan kami, jika para
pemimin kami sudah bersatu.
7. Kami pemaaf jika berkuasa, dan Penghancur jika ditindas
8. Kami melindungi siapa yang meminta, dan berperang dimana oun
berada
9. Kami yang pertama minum air yang bersih, yang lain minum
setelahnya kotor dan keruh.
10. Dunia dan isinya milik kami, kami yang menyiksa dan menyakiti.
Tak ada seorangpun yang berjalan di depan kami.
Masih banyak tokoh-tokoh sastrawan arab masa Jahiliyyah
diantaranya, Umru’ al-Qais, Nabighah, Zuhair, Al-A’sya Qais, Labid bin
Rabiah, Tharafah bin al-Abd, Antarah, Urwah bin al-Ward, Numair bin Taulab, Duraid bin Shammah dan sebagainya(Online. Hasib, 2011).
Referensi:
Hasib, Umar Badul
(2011). Sejarah Sastra Arab Jahily. Online.http//.www.
blogwarungsantri.com//27 April 2011 01:21
Supriyani, Reni.
(2099). Tarikh Adab. Online.http//.www. blogger.renisupriyani.com//21-juni-2009
Mardiansyah, Yadi.
(2010). Masa Jahiliyyah (العصر الجاهلي). Online.
http//.www.blogger.yadimardiansyah.com//masa-jahiliyyah//05-november-2011
Mardiansyah, Yadi.
(2010).Karakteristik Puisi Arab Jahilyyah (Part 1). Online.
http//.www.blogger.yadimardiansyah.com//karakteristik-puisi-arab-jahiliyyah-part-1//05-november-2011
Mardiansyah, Yadi.
(2010). Keadaan Bangsa Arab Jahiliyyah: Sosial, Etika Dan Agama. Online.
http//.www.blogger.yadimardiansyah.com//keadaan-bangsa-arab-jahiliyyah-sosial-etika-agama//05-november-2011
Mardiansyah,
Yadi. (2010). Kebanggaan dan Keberanian. Online.
http//.www.blogger.yadimardiansyah.com//kebanggaan-dan-keberanian//05-november-2011
Mardiansyah,
yadi. (2010). Amer bin Kultsum. Online.
http//.www.blogger.yadimardiansyah.com//amer-bin-kultsum//05-november-2011
Mardiansyah,
yadi. (2010). Al-Muraqqisy Al-Akbar. Online.
http//.www.blogger.yadimardiansyah.com//al-muraqqisy-al-akbar//05-november-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar