A.
Pengertian ta’kid almadh bima yusybihu
adz-dzam
Dalam konteks komunikasi antarmanusia biasanya
banyak sekali ungkapan yang bisa dimunculkan. Perbedaan bentuk ekspresi
tersebut ada dan digunakan oleh bahasa apapun di dunia. Untuk mengekspresikan
perasaan atau pikirannya, seseorang dapat mengungkapkannya dengan uslub yang
bervariasi. Penggunaan suatu uslub dalam komunikasi biasanya berkaitan dengan
kondisi mukhathab, pesan yang akan disampaikan, dan aspek-aspek
kebahasaan lainnya baik yang bersifat linguistik maupun non-linguistik.
Ta’kid almadh bima yusybihu addzam merupakan
salah satu jenis uslub badi’ yang bertujuan untuk memperindah makna. Secara
leksikal, uslub ini bermakna “Menguatkan Pujian Dengan Menyerupai Celaan.” (Zaenudin dan Nurbayan, 2007). Sedangkan dalam
bahasa Indonesia ragam muhassinat ma’nawiyah ini disebut Apofasis atau Preterisio adalah
gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan
ratusan juta rupiah uang Negara.(Naufal, http://www.diwarta.com/1541/pengertian-majas-gaya-bahasa-dan-macam-macamnya/)
Menurut D. Hidayat dalam bukunya Balaghah
untuk semua, menyebutkan bahwa ta’kid almadh bima yusybihu adz-dzam
artinya menegaskan pujian dengan ungkapan yang mengesankan adanya celaan. Dari
segi struktur kalimat, uslub dimaksud ditandai dengan pemakaian kata yang
menunjukkan “pengecualian”, seperti hanya, kecuali, dalam bahasa arab seperti
kata (إلا-غير-لكن-بيد). Misalnya: Pengusaha
Itu Kekayaanya Melimpah,…Hanya Saja… Amal Ibadahnya Tidak Kalah Dengan Para
Kiai Di Kota Ini. Ternyata, kalimat setelah kata ‘pengecualian’ merupakan pujian yang
berfungsi sebagai ‘penegas’ pada pujian pertama. (Hidayat, 2002: 162 )
Pada awalnya, ketika seseorang akan memuji,
dia memilih kata-kata atau ungkapan yang langsung menunjukkan kepada tujuan
tersebut. Akan tetapi seiring dengan perkembangan budaya dan tingkat
intelektual manusia, cara pengungkapan pujian tersebut bervariasi. Orang mulai
berpaling dari yang jelas kepada yang samar, dari yang hakiki kepada majazi,
dan dari yang mudah dipahami kepada yang sulit dipahami. Salah satu variasi
tersebut adalah Ta’kid almadh bima yusybihu addzam. (Zaenudin dan Nurbayan, 2007).
B.
Macam-macam Badi’ Ta’kid almadh bima yusybihu addzam
Badi’ Ta’kid almadh bima yusybihu addzam ini terbagi kepada dua bentuk yaitu:
1. Menafikan suatu sifat tercela setelah
mendatangkan sifat terpuji.
Jenis pertama
berupa menafikan suatu sifat tercela, kemudian setelah itu mendatangkan sifat
pujian. Dalam kaidah ilmu balaghah, jenis pertama ini bisa didefinisikan
dengan:
أن يستثنى من صفة ذم منفية، صفة مدح على تقدير دخولها فيها
Artinya:
“Mengecualikan sifat sanjungan dari sifat
pencelaan yang dinafikan dengan cara memperkirakan bahwa sifat sanjungan itu
termasuk kepada sifat pencelaan.”
Dalam ungkapan
keseharian kita sering mendengan ucapan seseorang: “dia tidak bodoh, tapi dia
seorang yang cerdas.” Ungkapan jenis ini banyak kita temukan dalam bahasa arab
baik dalam syiir maupun natsar.
a. Ibnu Rumi berkata:
ليس به عيب سوى أنّه # لا تقع العين على شبهه
Artinya:
“Tidak ada cacat padanya, selain mata tidak akan
melihat orang yang serupa dengan dia.”
Pada prinsipnya syiir diatas merupakan pujian
kepada orang yang dipujanya. Maksud ucapan penyair di atas adalah; “ pada orang
yang dipujanya tidak ada cacat. Tidak ada seorangpun yang sebanding dengannya.”
Dari untaian kata-kata tersebut tampakknya seperti
mencela, akan tetapi sebenarnya adalah memuji.
b. Penyair lain berkata:
و لا عيب فيه غير أنّ خدوده بهنّ احمرارا من عيون المتيم
Artinya:
“Dan tiada cela pada dirinya, hanya saja pada
pipi-pipinya terdapat warna kemerah-merahan, dari mata orang yang sangat
dicintai.”
c. Seorang penyair berkata:
ليس به عيب سوى أنه لا تقع العين على شبهه
Artinya:
“Tiada cela pada dirinya, hanya saja sesungguhnya,
tidak memendang suatu mata, pada orang yang menyerupainya.”
و لا عيب فيكم غير أنّ ضيوفكم تعاب بنسيان الاحبة و الوطن
Artinya:
“Tidak ada cacat bagi kalian, hanya sayang
tamu-tamu kalian, memang dicela karena lupa, terhadap kekasih dan tanah air.”
ليس به عيب سوى أنه لا تقع العين على شبهه
Artinya:
“Tidak ada cacat padanya, hanya sayang mata tidak
dapat melihat serupanya.”
و لا عيب في معروفهم غير أنه يبيّن عجز الشاكرين عن الشكر
Artinya:
“Tiada cacat pada kebaikan mereka, hanya saja
sesungguhnya dia, menjelaskan kelemahan untuk bersyukur, dari orang-orang yang
bersyukur.”
2. Menetapkan sifat pujian, kemudian diikuti oleh
istitsna’ dan sifat pujian lainnya. Dalam ilmu badi’, jenis kedua ini biasa
didefinisikan sebagai:
أن يثبت لشيئ صفة مدح، و يؤتى بعدها بأداة إستثناء تليها صفة مدح أخرى مستثناة
من مثلها
Artinya:
“Menetapkan sifat sanjungan terhadap sesuatu
dan sesudahnya didatangkan perangkat pengecualian yang diikuti oleh sifat
sanjungan lain yang dikecualikan dari semisalnya.”
Contoh untuk bentuk kedua ini adalah sebagai
berikut:
و لا عيب فيه غير أنى قصدته فأنستنى الأيام أهلا و موطنا
Artinya:
“Tiada cela pada dirinya, kecuali
sesungguhnya aku menujunya, kemudian hari-hari itu melupakanku, terhadap
keluarga dan tempat tinggal.”
و لا عيب فيه غير أنى قصدته فأنستنى الأيام أهلا و موطنا
فتى كملتأ وصافه غير أنه جواد فما يبقى من المال بقيا
Artinya:
“Dialah pemuda yang sempurna sifat-sifatnya, hanya
saja sesungguhnya dia seorang dermawan paripurna, maka tidak menyisakan
sisa harta.”
Ta’kid almadh
bima yusybihu addzam merupakan salah satu bentuk dari muhassinat ma’nawiyah yang bertujuan
untuk memuji (pujian). Model pujian dengan cara ini merupakan salah satu dari
beberapa bentuk pengungkapan yang memiliki nilai balaghah yang sangat tinggi. (Zaenudin dan Nurbayan, 2007).
C. Contoh-contoh lain
1.
أَنَا
أفْصَحُ الْعَرَبِ {بَيْدَ} أنّى مِنْ قُرَيْشٍِ
“Aku orang Arab yang paling fasih, hanya saja aku ini orang
quraisy.”
2.
لاَ حَسُنَ فيِ
المَنْزِلِ الاّ اَنّهُ مُظْلِمٌ ضَيْقُ الحُجُرَاتِ.
“Tiada keindahan di rumahnya,
hanya saja gelap dan sempit kamarnya”.
3.
هُوَ بَذِئُ
اللِّسَانِ غَيرَ اَنَّ صَدْرَهُ مَجْمَعُ الاَضْغَانِ.
“Ia adalah orang yang kotor lidahnya, hanya saja dadanya merupakan tempat
berkumpulnya kedengkian”.
- 4.لاَعِزّةَلَهُمْ بََيْنَ العَشَائِرِ غَيْرَ أنَّّ جَارَهُمْ ذَلِيْلٌ.
“Tidak ada kemuliaan bagi mereka dalam pergaulan, hanya saja tetangga
mereka orang-orang hina”.
- 5. لاَ فَضْلَ لِلْقَوْمِ اِلاَّ أنَّهُمْ لاَ يَعْرِفُوْنَ لِلْجَارِ حَقَّهُ.
“Tiada keutamaan bagi suatu kaum, namun mereka tidak mengetahui hak-hak
tetangga”.
- 6.تُعَدُّ ذُنُوْبِي عِنْدَ قَوْمٍ كَثِيرَةً * وَلاَذَنْبَ لِي اِلاّ العُلاَ
والفَضَائلُ
“Oleh suatu kaum dosaku dikatakan banyak, padahal tiada dosa bagiku kecuali
dosa-dosa yang tinggi dan utama”.
- 7الكَلاَمُ كَثِيْرُ التَّعْقِيْدِ سِوَي أنَّهُ مُبْتَذَلُ المَعَنِي.
“Kalimat itu berbelit-belit , di samping maknanya hambar”.
- 8الجَاهِلُ عَدُوُّ نَفْسِهِ لكِنَّهُ صَدِيْقُ السُّفَهَاءِ.
“Orang bodoh itu adalah musuh dirinya tetapi teman orang-orang bodoh”.
- 9لاَ خَيْرَ فِي هؤُلآءِ القَوْمِ إلاَّ أنَّهُمْ يُعِيْبُوْنَ زَمَانَهُمْ و
العَيْبُ فِيهِمْ.
“Tiada kebaikan pada kaum itu , hanya saja mereka mencela zaman dan mereka
juga cela”.
Adapun hasil
analisa yang kami dapat adalah sebagai berikut:
Pada contoh (2), kita menemukan pembicara mencela sebuah rumah dengan ungkapannya لاَحُسْنَ فِي المَنْزِلِ (tiada keindahan di
rumah itu), setelah itu di gunakan huruf istisna’ yang mengisyaratkan akan
datang pujian setelah istisna’. Namun yang terjadi sebaliknya, pembicara justru
memberikan sifat celaan untuk yang kedua kalinya, yaitu dengan ungkapan مُذْلِمٌ ضَيْقُ الحُجُرَاتِ (gelap dan kamarnya
sempit).pemberian celaan yang kedua itu sebenarnya dimaksudkan sebagai penguat
terhadap celaan yang pertama.
Pada contoh ke
(3), pembicara memberi sifat yang jelek kepada seseorang, ungkapan yang di
gunakan adalah بَذِئُ اللِّسَانِ
(ia orang yang kotor ungkapannya), setelah itu didatangkan huruf istisna’yang
memberi kesan akan datang sifat yang terpuji setelahnya, namun kenyataannya
lain, pembicara mendatangkan sifat yang jelek lagi kepada orang itu, ungkapan
yang di gunakan adalah صَدْرَهُ مَجْمَعُ الاَضْغَانِ (dadanya
penuh dengan kedengkian). Sifat jelek yang kedua ini tentu akan memperkuat
sifat jelek yang pertama.
Selanjutnya
pada contoh yang ke (4) ,Al-mutakallim memberi sifat cela kepada suatu kaum
dengan cara meniadakan sifat” Mulia”bagi mereka, ungkapan yang di gunakan
adalah لاَعِزَّةَ لَهُمْ (tidak
ada kemuliaan bagi mereka) , setelah di gunakan huruf istisna’ yang
mengisyaratkan akan datang pujian bagi mereka, namun yang terjadi sebaliknya
pembicara mendatangkan celaan yang lain dengan yang meniadakan sifat baik bagi
tetangganya, ungkapan yang digunakan adalah
أنَّ جَارُهُمْ ذَلِيْلٌ (tetangga mereka
orang-orang yang hina). Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa peniadaan
sifat baik pada kalimat kedua, memperkuat peniadaan sifat baik pada kalimat
pertama.
Demikian juga
pada contoh yang ke (5), Al-mutakallim mencela suatu kaum dengan cara
meniadakan sifat “ Keutamaan” bagi mereka, ungkapan yang digunakan adalah لاَ فَضْلَ لِلْقَوْمِ ( tiada
keutamaan bagi kaum tersebut) , setelah itu digunakan huruf istisna’ yang
mengisyaratkan akan datang pujian bagi mereka, namun yang terjadi sebaliknya,
pembicara mendatangkan celaan yang lain, yaitu bahwa kaum itu juga tidak
mengetahui hak-hak tetangganya. Ungkapan yang digunakan adalah أنَّهُمْ لاَيَعْرِفُوْنَ لِلْجَارِيَةِ (mereka tidak
mengetahui hak-hak tetangganya). Dan begitu pula seterusnya.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa adanya sifat celaan yang kedua tersebut
merupakan penegas adanya sifat celaan yang pertama. (Pusina, http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/15/takid-al-dzammi-bima-yusybihul-madhi-/#more-490)
Referensi:
A M R, Naufal, (2011). Pengertian Majas (Gaya Bahasa) dan Macam-macamnya. Online: http://www.diwarta.com/1541/pengertian-majas-gaya-bahasa-dan-macam-macamnya/
Hidayat, D. (2002). Balaghah Untuk Semua. Jakarta: PT Karya Toha Semarang
Mamat Zaenudin
dan Yayan Nurbayan, (2007). Pengantar Ilmu Balaghah. PT Refika Aditama: Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar